Wednesday, November 30, 2016


Indonesia pada 10 tahun yang lalu masih belum memiliki pencatatan aset negara. Hal ini pun menjadi tantangan bagi Sri Mulyani yang kala itu menjabat sebagai Menteri Keuangan era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. 


Menurutnya, cukup sulit saat itu untuk menyusun neraca dan pencatatan aset negara hingga APBN. Pasalnya, hanya sedikit pegawai Kementerian Keuangan yang ahli dalam hal ini. 


"Kalau Pak Boediono siapkan pondasi, kami buat neracanya. Kami susun pertama kali neraca RI Income statement atau balance sheet yang sekarang ini enggak ada sama sekali. Mereka kerja siang malam untuk susun neracanya," kata Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (30/11/2016). 


"Sampai dulu, saat kami bahas APBN, kami sampai becanda, wong yang tahu tentang APBN cuma pak Marwanto dan Pak Budiarso. Kalau pak Budiarso masuk kantor dan ketabrak bus, itu semua file hilang," imbuhnya. Menurutnya, Boediono telah melakukan peletakan dasar-dasar kebijakan fiskal bagi Indonesia pasca-krisis 1998. 


Saat ini, kebijakan tersebut hanya perlu dilanjutkan dengan pengelolaan yang transparan. "APBN kita disusun lebih kepada komparabilitas dengan selurh dunia nyaris sama.


Kalau bicara primary balance, kita bicara defisit. Dan belajar masalah utang kita ingin lebih transparan," tutupnya. 


Tunjukkan kemahiran bemain poker anda, bersama dengan jutaan member lainnya di 

1 ID bisa bermain 4 Game ( Texas Poker, Domino, Ceme dan Capsa susun). Jika anda tertarik untuk mendaftar, anda bisa mengisi kode berikut untuk memenuhi kolom referal

0 comments:

Post a Comment